BATU GAMPING
I.
Pendahuluan
Batuan karbonat merupakan batuan reservoir bagi minyak dan
gas bumi yang belakangan ini menjadi perhatian di industri migas. Di Indonesia
sendiri, telah ditemukan juga cadangan minyak di batuan karbonat pada Formasi
Baturaja, Formasi Kujung, dan lapangan minyak besar di Formasi Kais di Papua. Batuan karbonat
adalah semua batuan yang terdiri dari garam karbonat. Dalam prakteknya adalah
terutama gamping (limestone) dan dolomit.
Sedimen karbonat dihasilkan dari proses organik biokimia
pada llingkungan laut bersih, hangat, shallow water. Daerah tropikal dan
subtropikal dapat mencerminkan kondisi tersebut. Keadaan tertentu dapat
ditunjukan sebagai faktor sedimen karbonat, misalkan karena adanya produksi
sedimen yang tinggi dan akumulasi kalsium karbonat dari cangkang organisme.
Faktor-faktor yang mempengaruhi sedimen karbonat adalah :
1. Garis
lintang dan iklim
Karbonat yang terbentuk pada air
hangat neritik (0 – 200 m) terakumulasi pada garis lintang 300
utara dan selatan equator. Biasanya terbentuk dari pecahan organisme seperti
koral, dengan pertumbuhan terbaik pada kedalaman kurang dari 30 m. Sedimen
planktonik terbentuk pada kedalaman yang lebih dalam dengan garis lintang 400
utara dan selatan. Endapan pada air dingin neritik terletak pada garis lintang
200 – 400 , terbentuk dari bryozoa, moluska dan
foraminifera. Iklim dapat mengontrol rata-rata evaporasi atau hujan,
mempengaruhi komposisi air laut dekat batas kontinental dan restricted basin.
2.
Penetrasi cahaya
Penetrasi cahaya berkurang seiring
dengan bertambahnya kedalaman air, tingginya garis lintang dan berkurangnya
kejernihan air. Karbonat tumbuh pada zona shallow neritik , diatas 10 – 20 m
dari permukaan laut. Batas terendah penetrasi cahaya berkisar antara 100 – 150
m yang merupakan batas zona euphotic, zona dimana fotosintetik organisme
terjadi.
3.
Salinitas
Keanekaragaman dan kelimpahan
organisme laut terdapat pada salinitas normal marine yaitu 30 – 40 ppt (normal
air laut sekitar 32 – 36 ppt).
II.
Jenis-Jenis Batuan Karbonat
Pada umumnya batuan karbonat dapat dibagi menjadi empat
macam, yaitu:
1. Batuan
karbonat yang bersifat kerangka atau sebagai suatu terumbu (reef)
2. Batuan
karbonat yang bersifat klastik
3. Batuan
karbonat yang bersifat afanitik atau batugamping halus
4. Batuan
karbonat yang bersifat dolomit dan kristalin
Dari keempat batuan karbonat tersebut, semuanya dapat
bertindak sebagai batuan reservoir. Batugamping sebagai reservoir akan dibahas
lebih lanjut.
a. Batuan
karbonat yang bersifat kerangka atau sebagai suatu terumbu (reef)
Tipe batuan ini paling banyak didapatkan dalam batuan
karbonat Tersier di Indonesia. Tipe ini sering membentuk tebing terjal pada
singkapan, masif tak berlapis atau perlapisan buruk yang hanya kelihatan dari
jauh.
Tipe
gamping terumbu ini sering disebut “Boundstone” oleh Dunham, sedangkan
berdasarkan terdapatnya lumpur karbonat diantara kerangka atau pecahan-pecahan
kerangka Embrie dan Klovan membuat klasifikasi : Framestone, Bindstone,
Bafflestone, Rudstone dan Floatstone.
Terdapat beberapa klasifikasi batugamping yang dapat
digunakan, tetapi dalam industri minyak, klasifikasi Dunham (1962) yang
dimodifikasi oleh Embry dan Klovan merupakan
klasifikasi yang biasa digunakan. Klasifikasi Dunham didasarkan pada tekstur
pengendapan awal. Faktor utama dalam dalam klasifikasi ini yang perlu diamati
adalah :
Jika
tekstur pengendapannya tidak dapat dikenali, maka klasifikasi Dunham tidak
dapat digunakan, batuan harus dideskripsi berdasarkan ciri fisik atau
diagenesis
Jika tekstur pengendapannya dapat dikenali, maka klasifikasi
Dunham dapat digunakan dengan pembagian sebagai berikut :
- butiran
kurang dari 10% dari seluruh batuan maka disebut mudstone. Mudstone
terdapat dalam lingkungan carbonate platform dan cekungan. Calcareous mudstone
berasal dari hancurnya calcareous alga hijau, pemisahan partikel-partikel
skelatal besar, dan kemungkinan penyerapan inorganik dari air laut. Mudstone
pada lingkungan cekungan dan slope berasal dari winnowed platform muds (periplatform
ooze) atau berasal dari cangkang-cangkang nannoplankton coccoliths
(nannofosil ooze). Mudstone berakumulasi pada lingkungan energi rendah.
- butiran
lebih dari 10% dengan tetap didominasi oleh lumpur disebut wackestone,
sedangkan bila butiran tidak didukung lumpur tetapi dengan matriks disebut packstone.
Wackestone dan packstone diendapkan pada lingkungan energi transisi dimana arus
tidak dapat memindahkan seluruh lumpur dari area tersebut dan tidak dapat
memisahkannya dari butiran pasir. Area tersebut juga merupakan lingkungan
energi rendah seperti pada mudstone hanya saja lebih dekat pada tempat dimana
butiran-butiran pasir diendapkan, atau persentasi butiran-butiran pasir lebih
tinggi diproduksi pada tempat pengendapan tersebut.
- Batuan
seluruhnya berupa butiran disebut grainstone. Grainstone terbentuk dari
butiran skeletal dan non skeletal; bioclast, ooids dan peloids. Umumnya
terbentuk pada lingkungan energi tinggi seperti beaches, shoals atau nearby
reefs.
- Jika
butiran diikat pada waktu pengendapan oleh binding, baffling dan aktivitas
framebuilding pada terumbu-pembangunan organisme disebut boundstone.
-
Floatstone dan rudstone, ditambahkan pada klasifikasi Dunham untuk menggambarkan terumbu yang kasar-diperoleh
dari endapan skeletal. Muddy floatstone adalah butiran skeletal dalam
matriks lumpur; sandy floatstone mengandung matriks calcareous sand.
Rudstone mungkin bersih, tanpa matriks, atau dengan pasir atau matrik lumpur
antara tekstur yang didukung butiran.
-
Framestone dan bafflestone terbentuk oleh pembangun terumbu skleletal robulus,
seperti corals, stone red algae, bryozoa. Bindstone biasa sebagai
komponen pada reef flat. Stromatolite alga merupakan bentuk tipe dari
tekstur bindstone.
Batugamping terumbu adalah jenis sedimen biologi, yang
merupakan suatu susunan dari rangka-rangka organisma yang terdiri atas Algae,
Koral, Moluska dan Foraminifera.
Ditinjau dari segi ekologinya, organisma pembentuk terumbu
dapat berkembang dengan baik dan mempunyai penyebaran pada daerah neritik yang
dangkal dengan kedalaman maksimum 60m. Selain itu organisma pembangun terumbu
memerlukan pula syarat untuk kelancaran hidupnya, yaitu sebagai berikut :
1.
Sirkulasi air yang baik, berguna untuk membawa makanan dan pergantian oksigen.
2. Air
laut yang bersih dan tidak dikotori sedimen, karena hal ini akan memudahkan
masuknya sinar matahari untuk dapat diterima oleh organisma.
3. Salinitas yang normal, berkisar
antara 27-38 perseribu.
4.
Temperatur air yang agak hangat, antara 20-300C.
b. Batuan
karbonat yang bersifat klastik
Tipe
klastik ini dapat dibagi lagi menjadi :
a.
Bioklastik
b.
Interklast/fragmenter
c.
Chemiklastik
Gamping
Tipe Bioklastik
Tipe gamping ini terdiri seluruhnya dari cangkang-cangkang
atau fragmen-fragmen kerangka organisme. Biasanya dicirikan bahwa
fragmen/cangkang pernah lepas, terutama jika ditransport.
Lingkungan
Pengendapan
Lingkungan pengendapannya terdiri
dari :
1. Sering
merupakan laut yang beragitasi “shoal”, bagian-bagian dangkal dekat pantai
(litoral) terutama jika bertekstur grainstone-packstone dengan partikel-partikel
terabrasi.
2. Dapat
pula dibagian-bagian teduh dekat suatu reef, dilagoon, difore reef; merupakan
lembaran-lembaran dari reef yang dipecah-pecah gelombang kebagian air tenang,
terutama jika bertektur packstone ataupun wackstone, dengan butiran yang
terabrasi. Di fore reef biasanya merupakan breksi-talus runtuhan dari reef,
terdiri dari pecahan-pecahan cangkang koral.
3. Sering
pula neritik; misalnya jika terdiri dari organisme benthos, tanpa adanya
abrasi, misalnya gamping foraminifera besar yang membentuk “bank” atau
“biostrome”
Termasuk kedalam tipe bioklastik adalah gamping pelagis :
terutamater diri dari globigerina dan textularia yang menghujani dasar laut dan
sering membentuk kapur/chalk.
Terdapatnya gamping bioklastik; sering membentuk “biostrome”
atau “bank” tetapi dapat pula sebagai “bioherm”.
Gamping
Klastik Tipe Fragmenter (Bioklastik Maupun Chemical)
Jenis ini sering pula disebut “dendrital limestone”
(Pettijohn, 1957, p. 401) namun istilah ini tak dianjurkan untuk dipakai. Tipe
klastik fragmenter terdiri dari fragmen-fragmen yang asalnya tak jelas, dan
dapat merupakan campuran. Istilah yang sering dipakai: calcarenite (<2 mm)
dan calcirudite (> 2 mm) juga Grainy Limestone, Granular Limestone.
Cara terdapatnya jenis gamping ini adalah berlapis baik
sering menyerupai batupasir dan dengan struktur sedimen silang siur,
gelebur-gelombang dan sebagainya.
Gamping
Tipe Peralihan
Peralihan ke gamping bioklastik adalah biasa, sehingga
menimbulkan persoalan klasifikasi. Sebaiknya didiskripsi yang baik. Juga
peralihan/pencampuran oolite/pellet sering terjadi. Klasifikasi Dunham(1961)
dipergunakan dalam diagran klasifikasi ini.
Tipe lain adalah Interklast : hasil perombakan/ erosi
lapisan yang baru diendapkan. Biasanya berbutir kasar, sehingga sering merupakan
breksi atau konglomerat.
Lingkungan
Pengendapan
Gamping jenis ini pada umumnya, terutama yang bertekstur
grainstone, diendapkan secara mekanis oleh arus laut. Konsep rezim aliran
berlaku pula untuk tipe batuan ini, dan semua sturktur sedimen termasuk
urutan-urutan turbidit dapat diharapkan. Misalnya : dibagian luar suatu shelf
(platform) dimana banyak arus.
Contoh : Bagian bayangan angin dari terumbu pulau Seribu
(Umbgrovw 1929) terdiri dari klastik rombakan dari terumbu. Jika butir-butir
rombakan ini banyak mengandung matrix (packstone), maka sering dibagian yang
terlindung dari arus gelombang (backreef), beralih pada tipe gelombang
aphanitic (wackstone).
Gamping
Tipe Chemiclastic atau Klastik Non Fragmenter
Tipe gamping ini jarang didapatkan di Indonesia, tetapi
batuan ini merupakan reservoir minyak yang penting. Pengendapan dapat diamati
di Kepulauan Bahama dan Great Salt Lake (USA).
Tipe batuan ini sering bergradasi ke tipe bioklastik dan
tipe klastik fragmenter, malah campuran dari ketiga unsur sering terdapat
bersama-sama.
Lingkungan
Pengendapan dan Proses Pembentukkan
Agassiz (1896), oolit adalah pengendapan eolian, sedangkan
penulis-penulis lain menyatakan sebagai marine. Masalah lain adalah apakah
oolit diendapkan secara fisika-kimiawi (Vaughn, 1914), colloid gelatin atau
atas bantuan ganggang cyanophycea (Rothpletz, 1892 dan wethered 1895). Menurut
Bradley 1929, Bucher 1918, Eardly 1938, berdasarkan pengamatan di Great Salt
Lake dan Green River Formasi, oolite dibentuk dalan air yag diombang-ambing
(diagitasi) secara kuat/keras, dekat garis pantai, terlihat sering berasosiasi
dengan struktur lapisaan silang-siur (cross bedding).
Illings (1954) menyatakan bahwa oolit terjadi di laut
dangkal yang “supersaturated” akan kalsium karbonat, dan dimana terjadi
aliran-aliran marine yang cukup kuat.
Eardly (1938) menyatakan bahwa karbonat diendapkan
dipermukaan air sebagai kristal kecil (< 2 micron) yang kurang larut
daripada butir-butir yang lebih besar. Setidaknya jatuh didasar laut dan waktu
yang sama sejumlah molekul yang sama keluar dari larutan mengendap pada butir
yang lebih besar. Butir ini tumbuh secara oolitis, karena akresi dan juga
“corrosion” menjadi bundar, sewaktu diombang-ambing oleh arus.
c. Batuan
karbonat yang bersifat afanitik atau batugamping halus
Gamping jenis ini terdiri dari butir-butir < 0,005 mm,
tidak dapat diketahui
apakah
terdiri dari fragmen-fragmen halus (pecahan-pecahan gamping) atau
kristal-kristal halus.
Cara
Pembentukkan
Cara pembentukkannya yaitu :
1. Dari
penggerusan gamping yang telah ada, pengancuran terumbu oleh gelombang
(micro-granuler-clastics).
2. Dari
pengendapan langsung secara kimiawi dari air laut yang telah kelewat jenuh akan
CaC03, sebagai jarum-jarum aragonit.
3. Dari
pengendapan dengan bantuan ganggang hijau (chlorophycea) sebagai jarum-jarum
aragonit.
Lingkungan
Pembentukkan
Lingkungan
pembentukkannya yaitu :
1.
Diendapkan didaerah dangkal yang terlindung lagoon dibelakang terumbu.
2.
Penguapan yang kuat, temperatur tinggi/tropis/subtropis
3. Dengan
bantuan ganggang.
Biasanya kaya akan zat organik dan
diacak-acak oleh binatang, sehingga tidak memperlihatkan perlapisan.
III.
Terumbu Karbonat sebagai batuan resevoir
Terumbu ( reef ) dapat menjadi batuan reservoir yang sangat
penting. Pada umumnya terumbu terdiri dari suatu kerangka, coral, ganggang, dan
sebagainya yang tumbuh dalam laut yang bersih, berenergi gelombang tinggi, dan
mengalami banyak pembersihan sehingga rongga-rongga antaranya khususnya menjadi
sangat bersih. Dalam hal ini porositas yang didapatkan terutama dalam kerangka
yang berbentuk rongga-rongga bekas binatang hidup yang tersemenkan dengan
sparry calcite sehingga porositasnya diperkecil.
Bentuk
reservoir terumbu
Pada umumnya dapat dibedakan menjadi 2 macam reservoir terumbu,
yaitu:
Terumbu yang bersifat ‘ fringing ‘ atau merupakan suatu bentuk yang memanjang di lepas pantai.
Terumbu yang bersifat ‘ fringing ‘ atau merupakan suatu bentuk yang memanjang di lepas pantai.
Terumbu yang bersifat terisoler di sana-sini, yang sering
disebut sebagai suatu ‘ pinnacle ‘ atau ‘ patch reef ‘ atau secara tepat
dikatakan sebagai bioherm, yang muncul di sana-sini sebagai bentuk kecil secara
tidak teratur.
Terumbu yang berbentuk linier, atau sebagai penghalang (
barrier ) biasanya berbentuk mamanjang sering kali cukup besar serta
memperlihatkan suatu asimetri dan biasanya terdapat pada pinggiran suatu
cekungan.
Terumbu
tiang
Lapangan yang bersifat terumbu tiang ( pinnacle ) ditemukan
di Libya yaitu lapangan Idris dalam cekungan Sirte yang didapatkan dari suatu
terumbu berumur paleosen.
Contoh yang baik untuk terumbu tiang sebagai reservoir ialah
yang didapatkan baru-baru ini di Irian Jaya, yaitu lapangan minyak Kasim dan
Jaya. Lapangan Kasim-Jaya merupakan suatu akumulasi dalam kulminasi terumbu
yang tumbuh di atas suatu kompleks terumbu yang merupakan suatu landasan.
Bentuk terumbu Kasim-Jaya itu terdiri daripada batuan karbonat berenergi tinggi
yang panjangnya 7 km dan lebarnya 2.5-3.5 km dan mempunyai ketinggian atau
relief vertikal 760 m di atas landasan tempat terumbu itu tumbuh.
Contoh lain daripada batuan reservoir ini ialah di dalam
Formasi Baturaja di laut Jawa sebelah Barat yaitu lapangan minyak kitty yang
menghasilkan minyaknya dari terumbu batugamping.
Gamping
klastik
Gamping klastik sering juga merupakan reservoir yang sangat
baik, terutama dalam asosiasinya dengan oolit, dan sering disebut sebagai
kalkarenit.
Jadi jelas, bahwa batuan reservoir yang terdapat di dalam
oolit itu merupakan pengendapan berenergi tinggi dan didapatkan dalam jalur
sepanjang pantai dengan arus gelombang kuat. Porositas yang didapatkan biasanya
ialah jenis porositas intergranular, yang kadang-kadang diperbesar oleh adanya
pelarutan. Batuan reservoir oolit terdapat misalnya di cekungan Illinnois (
Amerika Serikat ), dimana terdapat oolit dalam gamping yang berumur karbonat.
Lapisan oolit ini disebut McClosky sand. Batuan ini terdiri daripada oolit yang
kadang-kadang bersifat dolomit. Contoh yang paling penting adalah di Saudi
Arabia yaitu dari Formasi Arab berumur jura muda, terutama dari anggota D.
Dolomit
Dolomit merupakan batuan reservoir yang jauh lebih penting
dari jenis batuan karbonat lainnya. Harus di ingat pula, bahwa kebanyakan dari
batuan karbonat seperti oolit ataupun terumbu sedikit banyak pula telah ikut
didolomitasikan. Cara terjadinya dolomit ini tidak begitu jelas, tetapi pada
umumnya dolomit ini bersifat sekunder atau sedikit banyak terbentuk setelah
proses sedimentasi. Salah satu teori yang menyebutkan pembentukan porositas
pada dolomit yaitu porositas timbul karena dolomitisasi batuan gamping sehingga
molekul kalsit diganti dengan molekul dolomit, dan karena molekul dolomit lebih
kecil daripada molekul kalsit maka hasilnya akan merupakan pengecilan volume
sehingga tidak timbulah rongga-rongga.dolomit biasanya mempunyai porositas yang
baik berbentuk sukrosit yaitu berbentuk menyerupai gula pasir. Rupa-rupanya
dolomit ini terbentuk karena pembentukan kristal dolomit yang bersifat euhedron
dan tumbuh secara tidak teratur diantara kalsit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar