BATUBARA
I.1 Pengertian
Batubara
Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil.
Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari
endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui
proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan
oksigen. Batubara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika
dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisa unsur
memberikan rumus formula empiris seperti : C137H97O9NS
untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk
antrasit.
Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period
(Periode Pembentukan Karbon atau Batu Bara) – dikenal sebagai zaman batu bara
pertama – yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu.
Mutu dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama
waktu pembentukan, yang disebut sebagai ‘maturitas organik’. Proses awalnya
gambut berubah menjadi lignite (batu bara muda) atau ‘brown coal (batu bara
coklat)’ – Ini adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah.
Dibandingkan dengan batu bara jenis lainnya, batu bara muda agak lembut dan
warnanya bervariasi dari hitam pekat sampai kecoklat-coklatan.
Mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama
jutaan tahun, batu bara muda mengalami perubahan yang secara bertahap menambah
maturitas organiknya dan mengubah batu bara muda menjadi batu bara
‘sub-bitumen’. Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara
menjadi lebih keras dan warnanya lebh hitam dan membentuk ‘bitumen’ atau
‘antrasit’. Dalam kondisi yang tepat, penigkatan maturitas organik yang semakin
tinggi terus berlangsung hingga membentuk antrasit.
Mutu dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan
tekanan serta lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai ‘maturitas organik’.
Proses awalnya gambut berubah menjadi lignite (batu bara muda) atau ‘brown coal
(batu bara coklat)’ – Ini adalah batu bara dengan jenis maturitas organik
rendah. Dibandingkan dengan batu bara jenis lainnya, batu bara muda agak lembut
dan warnanya bervariasi dari hitam pekat sampai kecoklat-coklatan. Mendapat
pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun, batu bara
muda mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan
mengubah batu bara muda menjadi batu bara ‘sub-bitumen’. Perubahan kimiawi dan
fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan warnanya
lebih hitam dan membentuk ‘bitumen’ atau ‘antrasit’. Dalam kondisi yang tepat,
penigkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus berlangsung hingga
membentuk antrasit.
Berdasarkan penjelasan di atas, untuk lebih memahami tentang
proses pembentukan batubara, maka diperlukan pembuatan paper tentang skema
pembentukan batubara, sebagai tugas besar dari mata kuliah Genesa Batubara.
I.2 Batubara
Secara Umum
I.2.1 Umur batu bara
Pembentukan batu bara memerlukan
kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada era-era tertentu sepanjang
sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun yang lalu (jtl), adalah
masa pembentukan batu bara yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit
batu bara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk.
Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl,
juga terbentuk endapan-endapan batu bara yang ekonomis di belahan bumi bagian
selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 -
13 jtl) di berbagai belahan bumi lain.
I.2.2 Materi pembentuk
batu bara
Hampir seluruh pembentuk batu bara
berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batu bara dan umurnya
menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:
1. Alga,
dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit
endapan batu bara dari perioda ini.
2. Silofita,
dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit
endapan batu bara dari perioda ini.
3. Pteridofita,
umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Materi utama pembentuk batu bara berumur
Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang
biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.
4. Gimnospermae,
kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan
heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar
getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan
glossopteris adalah penyusun utama batu bara Permian seperti di Australia,
India dan Afrika.
5. Angiospermae,
dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi
biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding
gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.
I.2.3 Kelas dan
jenis batu bara
Berdasarkan tingkat proses
pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batu bara umumnya
dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.
a. Antrasit
adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster)
metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang
dari 8%.
b. Bituminus
mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya.
Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia.
c. Sub-bituminus
mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber
panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.
d. Lignit
atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air
35-75% dari beratnya.
e. Gambut,
berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling
rendah.
I.2.4
Pembentukan batu bara
Proses perubahan sisa-sisa tanaman
menjadi gambut hingga batu bara disebut dengan istilah pembatu baraan
(coalification). Secara ringkas ada 2 tahap proses yang terjadi, yakni:
a. Tahap
Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga
lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah
kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses
pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.
b. Tahap Malihan
atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan
akhirnya antrasit.
a.
Teori berdasarkan Tempat terbentuknya
Teori
Insitu :
Bahan
– bahan pembentuk lapisan batubara terbentuk ditempat dimana tumbuh – tumbuhan
asal itu berada. Dengan demikian setelah tumb mati, belum mengalami proses
transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses
coalification.
Ciri
:
a.
Penyebaran luas dan merata
b.
Kualitas lebih baik, contoh Muara Enim
Teori
Drift:
Bahan2
pembtk lapisan batubara terjadi ditempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan
semula hidup dan berkembang. Dengan demikian tumbuhan yang telah mati mengalami
transportasi oleh media air dan terakumulasi disuatu tempat, tertutup oleh
lapisan sedimen dan mengalami coalification.
Ciri
:
a.
Penyebaran tidak luas tetapi banyak
b.
kualitas kurang baik (mengandung pasir pengotor), contoh pengendapan delta di
aliran sungai mahakam
I.2.4.a Teori Pembentukan Peat (Gambut)
Lapisan batubara umumnya berasal dari
peat(gambut) deposit di suatu rawa. Faktor-faktor penting dalam pembentukkan
peat:
1. Evolusi
perkembangan flora
Batubara tertua
yang berumur Hurorian Tengah dari Michigan berasal dari alga dan fungi.
Sedangkan pada jaman Devon Bawah dan
Atas, batubara kebanyakan berasal dari Psilophites (spt: Taeniocrada decheniana
(lower devon)). Kebanyakan batubara dari jaman
ini memiliki rata-rata lapisan
yang tipis(3-4m) dan tidak punya nilai ekonomis.
Pada Carbon Atas, tumbuhan mulai tinggi-tinggi
hingga mencapai ketinggian lebih dari 30m namun belum seberagam sekarang. Pada
jaman ini didominasi oleh: Lepidodendron, Sigillaria, Leginopteris oldhamia,
Calamitea. Jaman Upper Carboniferous dikenal sebagai perioda bituminous coal
Lapisan penting
batubara berumur Perm terdapat di USSR, dominan terbentuk dari Gymnosperm
cordaites.
Pada jaman
Mesozoic terutama Jura dan Cretaceous Bawah, Gymnosperm(Ginkcophyta,
Cycadophyta dan Cornifers) merupakan tumbuhan penting pembentuk batubara,
terutama di Siberia dan Asia Tengah. Pada rawa-rawa berumur Cretaceous Atas dan Tersier
tumbuhan Angiosperm tumbuh dengan pesat di N. America, Europe, Japan dan
Australia.
Jika
dibandingkan dengan tumbuhan pada masa Carbon, tumbuhan pada jaman Mesozoic
terutama jaman Tersier lebih beragam dan
spesifik serta menghasilkan deposit peat yang tebal dan beragam dalam tipe
fasiesnya.
Perkembangan
dan evolusi flora akan berpengaruh pada keragaman jenis dan tipe batubara yang
dihasilkan.
2. Iklim
Pada iklim yang
lebih hangat dan basah tumbuhan tumbuh lebih cepat dan beragam. Lapisan-lapisan
kaya batubara berumur Carbon Atas, Cretaceous Atas dan Tersier Awal diendapkan
pada iklim seperti ini. Namun pada hemisphere selatan dan Siberia juga terdapat
endapan batubara yang kaya yang diendapakan pada iklim yang sedang hingga
dingin, contohnya batubara inter-post glacial PermoCarbon Gondwana (dari Ganganopteris glossopteris) dan
batubara umur Perm dan Jura Bawah dari Angara konitnen.
Lapisan
batubara yang diendapkan pada iklim hangat dan basah biasanya lebih terang dan
tebal dibandingkan dengan yang diendapkan pada iklim basah.
3.
Paleogeografi dan Tectonic Requirement
Formasi lapisan tergantung pada
hubungan paleogeografi dan struktur pada daerah sedimentasi. Pembentukan
peat(gambut) terjadi pada daerah yang
depresi permukaan dan memerlukan
muka air yang relatif tetap sepanjang tahun diatas atau minimal sama dengan
permukaan tanah. Kondisi ini banyak muncul pada flat coastal area dimana banyak
rawa yang berasosiasi dengan persisir pantai. Selain itu rawa-rawa juga muncul
di darat(shore or inland lakes). Tergantung pada posisi asli geografinya,
endapan batubara paralic(sea coast) dan limnic(inland) adalah berbeda.
Paralic coal
swamps memiliki sedikit pohon atau bahkan tanpa pohon dan terbentuk diluar
distal margin pada delta. Pembentukkannya merupakan akibat dari regresi dan
transgresi air laut. Banyak coastal swamps besar yang berkembang dibawah
perlindungan sand bars dan pits sehingga dapat menghasilkan endapan batubara
yang tebal.
Back samps
terbentuk dibelakang tanggul alam sungai besar. Pada back swamps, peats(gambut) kaya dengan mineral
matter akibat banjir yang sering terjadi. Peat deposits hanya dapat terawetkan
pada daerah subsidence. Akibatnya endapan yang kaya batubara banyak berhubungan
dengan daerah ini, seperti yang sering muncul pada foredeep pada suatu
pegunungan lipatan yang besar.
Sikuen sediment
yang tebal dimana didalamnya terdapat lapisan tipis batubara(<2m) dengan
penyebaran yang besar dan keberadaan intercalation dari marine bed adalah
karakteristik dari batubara yang diendapkan di foredeeps dari suatu pegunungan
lipatan yang besar. Cyclothem adalah perulangan antara peat dengan inorganic
sediment dan sekuen ini sering berulang.
Pada bagian
backdeeps dari suatu pegunungan lipatan yang besar, subsidence biasanya lebih
sedikit dan jumlah lapisan batubara lebih sedikit. Ketika paralic coals diendapkan di foredeeps,
kebanyakan limnic coals diendapkan di dalam cekungan kontinen yang besar.
Limnic coals memiliki karakter: terbentuk pada kontinen graben, jumlah
lapisannya sedikit tapi setiap lapisannya sangat tebal.
I.2.4.b Teori
Transportasi – Allotocton
Teori ini
mengungkapkan bahwa pembentukan batubara bukan berasal dari degradasi/peluruhan
sisa-sisa tanaman yang insitu dalam sebuah lingkungan rawa peat, melainkan
akumulasi dari transportasi material yang terkumpul didalam lingkungan aqueous
seperti danau, laut, delta, hutan bakau. Teori ini menjelaskan bahwa terjadi
proses yang berbeda untuk setiap jenis batubara yang berbeda pula.
I.2.4.c Proses
Geokimia dan Metamorfosis
Fase
Biokimia (Diagenesa)
Tingkatan biokimia (atau biogenetik) daripada
metamorfisme organik adalah aksi orgasnisme hidup, khususnya dominan bakteri.
Bakteri yang berperan yaitu bakteri aerob dan bakteri anaerob
serta jamur, Bakteri aerob menguraikan unsur karbon (C), nitrogen (N) dan
karbon dioksida (CO2) pada material tumbuhan, sedangkan bakteri
anaerob menguraikan unsure hidrokarbon (CH), asam (acid) serta alkohol (C2H5OH)
pada material tumbuhan, proses ini berlangsung di bawah permukaan.
Dalam pembentukan batubara, material tanaman mengalami
proses penggambutan dan proses pembentukan humin terhadap humic matter.
Komposisi microbiologi tidak dapat terjadi di atas temperatur tertentu
(> ± 800C). Proses ini berlangsung pada kedalaman satu sampai
sepuluh meter dibawah permukaan.
Fase
Geokimia (Metamorfisma)
Fase geokimia (fase ini tidak ada lagi aktivitas organism
seperti bakteri, tetapi didominasi oleh pengaruh peningkatan temperatur dan
tekanan, disebabkan oleh peningkatan kedalaman penimbunan unsur organik di
bawah tutupan sedimen (sedimentary overburden). Batas dari fase tersebut
yaitu pada kedalaman lebih dari sepuluh meter, tetapi bisa dikatakan reaksi
berakhir pada tingkat gambut dan aksi geokimia menjadi agen utama pada tingkat brown-coal
dan hard-coal.
Pada tahapan geokimia, terjadi peningkatan rank pada
batubara mulai dari lignite sampai pada tahap anthracite, seiring dengan
kenaikan rank, maka terjadi pula kenaikan unsur karbon, nilai reflectan (Rmax)
dan CV (Caloric Value) atau nilai kalori, serta terjadi penurunan kandungan air
(H2O), Vollatil Matter (VM), Hidrogen (H) dan Oksigen (O). Nilai
Kalori batubara bergantung pada peringkat batubara. Semakin tinggi peringkat
batubara, semakin tinggi nilai kalorinya. Pada batubara yang sama Nilai kalori
dapat dipengaruhi oleh moisture dan juga Abu. Semakin tinggi moisture atau abu,
semakin kecil nilai kalorinya. Kandungan karbon secara sesuai pada rank
batubara yaitu: Gambut (55% C), Lignite (60% C), Sub-bituminous (70%),
Bituminous (80% C) dan Anthracite (95% C).
I.3 Gasifikasi batu
bara
Coal gasification adalah sebuah proses
untuk merubah batu bara padat menjadi gas batu bara yang mudah terbakar
(combustible gases), setelah proses pemurnian gas-gas ini karbon monoksida
(CO), karbon dioksida (CO2), hidrogen (H), metan (CH4), dan nitrogen (N2) –
dapat digunakan sebagai bahan bakar. hanya menggunakan udara dan uap air
sebagai reacting-gas kemudian menghasilkan water gas atau coal gas, gasifikasi
secara nyata mempunyai tingkat emisi udara, kotoran padat dan limbah terendah.
Tetapi, batu bara bukanlah bahan bakar
yang sempurna. Terikat didalamnya adalah sulfur dan nitrogen, bila batu bara
ini terbakar kotoran-kotoran ini akan dilepaskan ke udara, bila mengapung di
udara zat kimia ini dapat menggabung dengan uap air (seperti contoh kabut) dan
tetesan yang jatuh ke tanah seburuk bentuk asam sulfurik dan nitrit, disebut
sebagai "hujan asam" “acid rain”. Disini juga ada noda mineral kecil,
termasuk kotoran yang umum tercampur dengan batu bara, partikel kecil ini tidak
terbakar dan membuat debu yang tertinggal di coal combustor, beberapa partikel
kecil ini juga tertangkap di putaran combustion gases bersama dengan uap air,
dari asap yang keluar dari cerobong beberapa partikel kecil ini adalah sangat
kecil setara dengan rambut manusia.
I.4 Batubara
sebagai sediment organik
Batubara merupakan sedimen organik,
lebih tepatnya merupakan batuan organik, terdiri dari kandungan bermacam-macam
pseudomineral. Batubara terbentuk dari sisa tumbuhan yang membusuk dan
terkumpul dalam suatu daerah dengan kondisi banyak air, biasa disebut
rawa-rawa. Kondisi tersebut yang menghambat penguraian menyeluruh dari
sisa-sisa tumbuhan yang kemudian mengalami proses perubahan menjadi batubara.
Selain tumbuhan yang ditemukan
bermacam-macam, tingkat kematangan juga bervariasi, karena dipengaruhi oleh
kondisi-kondisi lokal. Kondisi lokal ini biasanya kandungan oksigen, tingkat
keasaman, dan kehadiran mikroba. Pada
umumnya sisa-sisa tanaman tersebut dapat berupa pepohonan, ganggang,
lumut, bunga, serta tumbuhan yang biasa hidup di rawa-rawa. Ditemukannya jenis
flora yang terdapat pada sebuah lapisan batubara tergantung pada kondisi iklim
setempat. Dalam suatu cebakan yang sama, sifat-sifat analitik yang ditemukan
dapat berbeda, selain karena tumbuhan asalnya yang mungkin berbeda, juga karena
banyaknya reaksi kimia yang mempengaruhi kematangan suatu batubara.
Secara umum, setelah sisa tanaman
tersebut terkumpul dalam suatu kondisi tertentu yang mendukung (banyak air),
pembentukan dari peat (gambut) umumnya terjadi. Dalam hal ini peat tidak
dimasukkan sebagai golongan batubara, namun terbentuknya peat merupakan tahap
awal dari terbentuknya batubara. Proses pembentukan batubara sendiri secara
singkat dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dari sisa-sisa tumbuhan
yang ada, mulai dari pembentukan peat (peatifikasi) kemudian lignit dan menjadi
berbagai macam tingkat batubara, disebut juga sebagai proses coalifikasi, yang
kemudian berubah menjadi antrasit. Pembentukan batubara ini sangat menentukan
kualitas batubara, dimana proses yang berlangsung selain melibatkan
metamorfosis dari sisa tumbuhan, juga tergantung pada keadaan pada waktu
geologi tersebut dan kondisi lokal seperti iklim dan tekanan. Jadi pembentukan
batubara berlangsung dengan penimbunan akumulasi dari sisa tumbuhan yang
mengakibatkan perubahan seperti pengayaan unsur karbon, alterasi, pengurangan
kandungan air, dalam tahap awal pengaruh dari mikroorganisme juga memegang
peranan yang sangat penting.
I.4.1 Penyusun
Batubara
Konsep bahwa batubara berasal dari sisa
tumbuhan diperkuat dengan ditemukannya cetakan tumbuhan di dalam lapisan
batubara. Dalam penyusunannya batubara diperkaya dengan berbagai macam polimer
organik yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin, dll. Namun komposisi
dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari tumbuhan
penyusunnya.
a. Lignin
Lignin merupakan suatu unsur yang
memegang peranan penting dalam merubah susunan sisa tumbuhan menjadi batubara.
Sementara ini susunan molekul umum dari lignin belum diketahui dengan pasti,
namun susunannya dapat diketahui dari lignin yang terdapat pada berbagai macam
jenis tanaman. Sebagai contoh lignin yang terdapat pada rumput mempunyai
susunan p-koumaril alkohol yang kompleks. Pada umumnya lignin merupakan polimer
dari satu atau beberapa jenis alkohol.
Hingga saat ini, sangat sedikit bukti
kuat yang mendukung teori bahwa lignin merupakan unsur organik utama yang
menyusun batubara.
b. Karbohidrat
Gula atau monosakarida merupakan
alkohol polihirik yang mengandung antara lima sampai delapan atom karbon. Pada
umumnya gula muncul sebagai kombinasi antara gugus karbonil dengan hidroksil
yang membentuk siklus hemiketal. Bentuk lainnya mucul sebagai disakarida,
trisakarida, ataupun polisakarida. Jenis polisakarida inilah yang umumnya menyusun
batubara, karena dalam tumbuhan jenis inilah yang paling banyak mengandung polisakarida (khususnya selulosa) yang
kemudian terurai dan membentuk batubara.
c.
Protein
Protein
merupakan bahan organik yang mengandung nitrogen yang selalu hadir sebagai
protoplasma dalam sel mahluk hidup. Struktur dari protein pada umumnya adalah
rantai asam amino yang dihubungkan oleh rantai amida. Protein pada tumbuhan
umunya muncul sebagai steroid, lilin.
I.5 Batu bara di Indonesia
Di Indonesia,
endapan batu bara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan Tersier, yang
terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera dan
Kalimantan), pada umumnya endapan batu bara ekonomis tersebut dapat
dikelompokkan sebagai batu bara berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah,
kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas,
kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi.
Batu bara ini
terbentuk dari endapan gambut pada iklim purba sekitar khatulistiwa yang mirip
dengan kondisi kini. Beberapa diantaranya tegolong kubah gambut yang terbentuk
di atas muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun. Dengan kata
lain, kubah gambut ini terbentuk pada kondisi dimana mineral-mineral anorganik
yang terbawa air dapat masuk ke dalam sistem dan membentuk lapisan batu bara
yang berkadar abu dan sulfur rendah dan menebal secara lokal. Hal ini sangat
umum dijumpai pada batu bara Miosen. Sebaliknya, endapan batu bara Eosen
umumnya lebih tipis, berkadar abu dan sulfur tinggi. Kedua umur endapan batu
bara ini terbentuk pada lingkungan lakustrin, dataran pantai atau delta, mirip
dengan daerah pembentukan gambut yang terjadi saat ini di daerah timur Sumatera
dan sebagian besar Kalimantan.
I.6 Sumberdaya
batu bara
Potensi sumberdaya batu bara di
Indonesia sangat melimpah, terutama di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera,
sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai batu bara walaupun dalam jumlah
kecil dan belum dapat ditentukan keekonomisannya, seperti di Jawa Barat, Jawa
Tengah, Papua, dan Sulawesi.
Di Indonesia,
batu bara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel fuel) yang telah
umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batu bara jauh lebih
hemat dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut: Solar Rp 0,74/kilokalori
sedangkan batu bara hanya Rp 0,09/kilokalori, (berdasarkan harga solar industri
Rp. 6.200/liter).
Dari segi
kuantitas batu bara termasuk cadangan energi fosil terpenting bagi Indonesia.
Jumlahnya sangat berlimpah, mencapai puluhan milyar ton. Jumlah ini sebenarnya
cukup untuk memasok kebutuhan energi listrik hingga ratusan tahun ke depan.
Sayangnya, Indonesia tidak mungkin membakar habis batu bara dan mengubahnya
menjadi energis listrik melalui PLTU. Selain mengotori lingkungan melalui
polutan CO2, SO2, NOx dan CxHy cara ini dinilai kurang efisien dan kurang
memberi nilai tambah tinggi.
Batu bara
sebaiknya tidak langsung dibakar, akan lebih bermakna dan efisien jika
dikonversi menjadi migas sintetis, atau bahan petrokimia lain yang bernilai
ekonomi tinggi. Dua cara yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah likuifikasi
(pencairan) dan gasifikasi (penyubliman) batu bara.
Membakar batu
bara secara langsung (direct burning) telah dikembangkan teknologinya secara
continue, yang bertujuan untuk mencapai efisiensi pembakaran yang maksimum,
cara-cara pembakaran langsung seperti: fixed grate, chain grate, fluidized bed,
pulverized, dan lain-lain, masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahannya.
I.7 Bagaimana
membuat batu bara bersih
Ada beberapa cara. Contoh sulfur,
sulfur adalah zat kimia kekuningan yang ada sedikit di batu bara, pada beberapa
batu bara yang ditemukan di Ohio, Pennsylvania, West Virginia dan eastern
states lainnya, sulfur terdiri dari 3 sampai 10 % dari berat batu bara,
beberapa batu bara yang ditemukan di Wyoming, Montana dan negara-negara bagian
sebelah barat lainnya sulfur hanya sekitar 1/100ths (lebih kecil dari 1%) dari
berat batu bara. Penting bahwa sebagian besar sulfur ini dibuang sbelum
mencapai cerobong asap.
Satu cara untuk
membersihkan batu bara adalah dengan cara mudah memecah batu bara ke bongkahan
yang lebih kecil dan mencucinya. Beberapa sulfur yang ada sebagai bintik kecil
di batu bara disebut sebagai "pyritic sulfur " karena ini
dikombinasikan dengan besi menjadi bentuk iron pyrite, selain itu dikenal
sebagai "fool's gold” dapat dipisahkan dari batu bara. Secara khusus pada
proses satu kali, bongkahan batu bara dimasukkan ke dalam tangki besar yang
terisi air , batu bara mengambang ke permukaan ketika kotoran sulfur tenggelam.
Fasilitas pencucian ini dinamakan "coal preparation plants" yang
membersihkan batu bara dari pengotor-pengotornya.
Tidak semua
sulfur bisa dibersihkan dengan cara ini, bagaimanapun sulfur pada batu bara
adalah secara kimia benar-benar terikat dengan molekul karbonnya, tipe sulfur
ini disebut "organic sulfur," dan pencucian tak akan
menghilangkannya. Beberapa proses telah dicoba untuk mencampur batu bara dengan
bahan kimia yang membebaskan sulfur pergi dari molekul batu bara, tetapi kebanyakan
proses ini sudah terbukti terlalu mahal, ilmuan masih bekerja untuk mengurangi
biaya dari prose pencucian kimia ini.
Kebanyakan
pembangkit tenaga listrik modern dan semua fasilitas yang dibangun setelah 1978
— telah diwajibkan untuk mempunyai alat khusus yang dipasang untuk membuang
sulfur dari gas hasil pembakaran batu bara sebelum gas ini naik menuju cerobong
asap. Alat ini sebenarnya adalah "flue gas desulfurization units,"
tetapi banyak orang menyebutnya "scrubbers" — karena mereka men-scrub
(menggosok) sulfur keluar dari asap yang dikeluarkan oleh tungku pembakar batu
bara.
-
Membuang NOx dari batu bara
Nitrogen secara
umum adalah bagian yang besar dari pada udara yang dihirup, pada kenyataannya
80% dari udara adalah nitrogen, secara normal atom-atom nitrogen mengambang
terikat satu sama lainnya seperti pasangan kimia, tetapi ketika udara
dipanaskan seperti pada nyala api boiler (3000 F=1648 C), atom nitrogen ini
terpecah dan terikat dengan oksigen, bentuk ini sebagai nitrogen oksida atau
kadang kala itu disebut sebagai NOx. NOx juga dapat dibentuk dari atom nitrogen
yang terjebak didalam batu bara.
Di udara, NOx
adalah polutan yang dapat menyebabkan kabut coklat yang kabur yang kadang kala
terlihat di seputar kota besar, juga sebagai polusi yang membentuk “acid rain”
(hujan asam), dan dapat membantu terbentuknya sesuatu yang disebut “ground
level ozone”, tipe lain dari pada polusi yang dapat membuat kotornya udara.
Salah satu cara terbaik untuk mengurangi NOx
adalah menghindari dari bentukan asalnya, beberapa cara telah ditemukan untuk
membakar barubara di pemabakar dimana ada lebih banyak bahan bakar dari pada
udara di ruang pembakaran yang terpanas. Di bawah kondisi ini kebanyakan
oksigen terkombinasikan dengan bahan bakar daripada dengan nitrogen. Campuran
pembakaran kemudian dikirim ke ruang pembakaran yang kedua dimana terdapat
proses yang mirip berulang-ulang sampai semua bahan bakar habis terbakar.
Konsep ini disebut "staged combustion" karena batu bara dibakar
secara bertahap. Kadang disebut juga sebagai "low-NOx burners" dan
telah dikembangkan sehingga dapat mengurangi kangdungan Nox yang terlepas di
uadara lebih dari separuh. Ada juga teknologi baru yang bekerja seperti
"scubbers" yang membersihkan NOX dari flue gases (asap) dari boiler
batu bara. Beberapa dari alat ini menggunakan bahan kimia khusus yang disebut
katalis yang mengurai bagian NOx menjadi gas yang tidak berpolusi, walaupun
alat ini lebih mahal dari "low-NOx burners," namun dapat menekan
lebih dari 90% polusiNox
KESIMPULAN
Dari
hasil pembahasan tersebut maka dapat disipulkan sebagai berikut:
- Proses pembentukan batubara melewati dua tahapan yaitu tahapan diagenesa (biokimia) yang dimulai dari proses penggambutan (peatification) sampi pada lignite, dan Tahapan Metamorfisma (geokimia) mulai yang dimulai dari lignite sampai pada anthracite.
- Semakin tinggi rank suatu batubara, maka semakin tinggi nilai kalorinya, dan semakin tinggi nilai karbon (%C). Dan sebaliknya, semakin rendah kandungan air, vollatil matter, hydrogen dan oksigen.